He’s an Arian

Kau tahu, kau punya kedalaman yang sangat menarik untuk diselami. Hanya saja, aku tak punya keahlian untuk memahami misteri. Aku hanya mampu memahamimu seperti ini, dengan banyak kekeliruan yang sebisa mungkin kuperbaiki demi hubungan yang tak lebih dari ini. Menyakitkan, bukan?

Bagaimana kau bisa se-dingin itu, sedangkan elemenmu adalah api? Aku rindu nyala yang terang. Karena entah mengapa, dasar air ini menjadi terasa gelap dan keruh. Aku seperti air yang takut merasakan gelombangnya sendiri. Takut mengalir, tak bisa mengalir. Alangkah bahagianya jika aku menjadi bagian dari hangatmu.

Dear Arian. . . . Maafkan aku yang serakah. Maafkan aku yang merayu. Maafkan aku yang mungkin buruk dimatamu. Terima kasih untuk ruang yang sempat kau bagi dan kebijaksanaanmu.

Advertisements

PISCES

pisces1

Seekor ikan paling cantik yang pernah ada. Biasanya aku mengenali seorang pisces dari matanya. Mereka memiliki mata yang kurang lebih sama. Bukan menonjol seperti mata ikan. Justru yang biasanya memiliki mata menonjol adalah para capricorn. Tapi pisces yang satu ini, dia memiliki mata yang jauh lebih indah. Dia memiliki kelopak yang lebih lebar dan berbinar jika dibandingkan dengan kawanannya. Selama ini aku mengira pemilik mata yang indah hanyalah aquarius dan aries. Tapi pisces yang satu ini, kelopak matanya membuatku iri.

Ikan kecil yang dulu selalu tampak sendiri, kini telah mendewasa dan senantiasa tampak diantara kerumunan. Dia selalu tersenyum dalam bingkai-bingkai foto. Bukankah pisces memang begitu? Selalu tampak ceria, entah apapun yang ada di dalam hatinya.

Setiap melihatnya, aku teringat ikan kecil yang dulu tersisih dan kesepian. Kakaknya yang seorang libra tak menyukainya. Sang kakak selalu menganggapnya ikan kecil pembawa sial yang senantiasa membuatnya kesal. Ikan kecil itu, dia tak menangis. Aku tahu dari matanya yang cantik sebenarnya airmata sudah hampir tumpah. Ia menunduk, matanya yang cantik melihat tanah dan raut wajahnya begitu malang.

“Dengar, setiap kali kakakmu menyalahkanmu, aku tahu kau tidak bersalah. Dia memarahimu meskipun kau tidak melakukan kesalahan. Dia memang seperti itu, tapi kau tidak. Aku tahu kau ikan kecil yang baik. Maka dari itu, mintalah maaf padanya setiap kali dia marah. Ulurkan tanganmu dan tunjukkan sedikit raut penyesalan. Hanya orang baik saja yang mau mengalah. Kau tahu, dalam hatiku, aku selalu tahu kau yang benar, kau yang baik. Kau mau kan mengikuti apa kataku?”

Dia mengangguk. Tak banyak ekspresi yang terlihat dari wajah polosnya. Tapi aku tahu, dalam hatinya dia menyukaiku. Dia akan melakukan apa yang kukatakan karena dia meyukaiku.

Keesokan harinya, libra betina itu kembali marah-marah dan menyalahkannya. Ikan kecil itu diam sejenak mendengarkan kemarahan kakaknya, lalu dia meminta maaf. Dia mengulurkan tangannya seperti kataku. Sang libra terpojok, dia tak bisa menumpahkan kemarahannya lagi karena terkejut ikan kecil itu bisa mengucapkan kata yang selama ini tak pernah dipelajarinya.

Lama tak melihatnya, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Tubuhnya yang dulu kurus kering, kini pinggulnya terbentuk dengan indah. Tapi entah, aku sempat merasa dia mirip ikan berkedok yang hanya muncul ke permukaan sebentar lalu bersembunyi di dasar air. Dia menyapa dengan senyumnya, tapi tak berkata banyak. Dalam diary-nya, dia menulis bahwa dia tidak menyukai hidupnya, tak suka dengan kolam kecil yang mengungkung kebebasannya. Dia tak pernah bercerita secara langsung padaku. Kenapa dia menyimpan kebencian diam-diam?

Namun beberapa waktu yang lalu, dia mulai mengajakku berbincang-bincang. Dia bertanya dan menunjukkan kepeduliannya. Dari pertanyaan yang dia tanyakan, ternyata selama ini dia mengamatiku. Dia tahu bersama siapa aku sekarang. Dia bahkan tahu aku suka menulis puisi. Dia mengagumi tulisan-tulisanku.

Pisces yang tumbuh jauh dariku itu, perlahan aku mulai menyadarinya, bahwa selama ini dia merindukanku.

Pernahkah Kau Merasa Ingin Mati?

Image

Pernahkah kau merasa ingin mati? Merasakan keputusasaan menyentuh setiap sendi tubuh. Kau bergetar, ringkih tubuh seluruhnya luka. Pernahkan kau menangis di tepi jalan, tak ingin pulang. Tak ingin menjadi dirimu yang dilepas di jalanan untuk pulang.

Pernahkah kau takut mendengar sebuah lagu? Takut lagu itu membunuhmu. Lagu yang seperti kutukan. Kutukan darahmu sendiri. Lagu yang menyimpan percikan darah saat seseorang hampir membunuhmu. Pernahkah kau merasa takut, sangat takut.

Pernahkah kau merasakan luka yang sebabnya datang berulang-ulang? Tubuh rapuhmu terbaring dihimpit airmata. Seseorang meninggalkanmu sendirian dalam kekalahan. Tak ada yang datang kecuali kebencian jika kau ingin membenci. Tak ada yang datang kecuali kebencian jika kau ingin dibenci.

Pernahkah dalam sebuah pagi, kau merasa kehilangan segalanya? Lalu kau meminta, tapi yang mendengar tak memberi. Lalu kau memohon, tapi tak dikabulkan. Lalu kau mengancam bunuh diri, tapi kau dibiarkan mati.

 

Petualang dan Matinya Masa Lalu

petualang

Bagimu, kehidupan adalah mendaki. Memanjat setiap jengkal keinginan dan sesekali meninggalkan makna pada jejak langkah. Agar kami bisa tahu kemana saja kau pergi. Agar kami bisa menelusuri waktu saat kau masih dalam genggaman waktu itu. Sedangkan aku? Aku masih terus mengenang. Merenungi gunung dan pantai. Barang kali masih ada jejakmu yang belum sepenuhnya kupahami. Barang kali jejak-jejak kaki akan membawaku menuju dimana kau berada: surga.

Pada catatan-catatan tentang waktu. Mungkin itulah jejak terakhirmu. Jejak terakhir yang mengantarkanku pada perasaanmu. Kerumitan yang kau tulis begitu indah. Tapi jika boleh kusederhanakan saja, maka aku akan bertanya: kau mencintaiku kan?!

Mereka memperbincangkan kenangan-kenangan mereka denganmu. Mereka menyanyikan kehilangan-kehilangan. Tapi apakah kau tahu, aku juga merasakan kehilangan itu. Hanya aku tak bisa mengungkapkannya dengan sempurna.

Bahwa anak kecil itu tak punya masa lalu. Kiranya kau ingin selalu seperti itu. Maka kau mendaki. Menjumpai segala wujud yang baru di depanmu, -hiduplah seperti anak kecil itu-. Namun saat aku dan mereka semua begitu lama menunggu, kau tak juga pulang pada kami, masa lalumu. Benarkah kau sudah tak sudi bertemu masa lalu?

Kau terus mendaki, tapi tahukah kau mendaki terlalu tinggi? Sedang kami, masa lalumu, terus memanggilmu untuk kembali ke dalam hati. Kembalilah. Kembalilah. Tapi nyatanya ada saat-saat dimana kau tak bisa menghentikan langkahmu lagi. Ada saat-saat kau melangkah tanpa henti.

Akhirnya kau mengajarkan pada kami tentang akhir dari mendaki. Bahwa kita hanya harus terus berjalan membawa segenggam nafas yang masih tersisa. Hingga kita berjumpa pada petualangan yang sesungguhnya, setelah hembusan itu terhenti. Dan tak ada yang sia-sia.

Pada catatan yang kau tinggalkan itu, kau tulis sebait puisi yang sempurna. Tentang kopi yang terus menerus kumaknai, ternyata kau telah menulis penggalannya bertahun-tahun lalu. Tentang kehidupan yang ingin kutulis, ternyata kau telah menuliskannya sejak bertahun-tahun itu.

Pada halaman mukadimah itu, kau berkata: bantu aku menulis, bantu aku bersuara. Andai aku bisa berbalas kerumitan denganmu. Andai kata-kataku mampu menemani kata-katamu yang rumit dan sendiri.

Dan kau berkata, marilah merasa senang menjadi manusia. Marilah menikmati kejutan petualangan. Kau tahu, segala bentang kehidupan yang telah kumaknai kalah oleh dua kalimatmu itu. Dalam petualangan paling sedih, kau telah bergembira menjadi manusia.  Dalam petualangan yang paling sedih, kau tak gentar mengembara.

Andai kau tahu, aku ingin menemanimu dalam sebuah perjalanan sederhana. Menikmati indahnya lekuk-lekuk kota dan senyummu. Hingga aku bisa mengerti setiap sorot bahagia dari pilihan hidup yang kau jalani. Aku hanya ingin menemanimu. Menjadi teman kecilmu yang berbagi senyum ceria.

Dan sebuah lagu. Pada lirik lagu yang mestinya kau nyanyikan untukku. Kau telah menyukainya bertahun-tahun sebelum aku tergila-gila dengan lagu itu. Maka kini, kau lah masa lalu itu. Masa lalu yang bernyanyi dan menghamparkan cerita-cerita. Untukmu, aku bernyanyi.

“I’m not crazy, I’m just a little unwell
I know right now you can’t tell
But stay awhile and maybe then you’ll see
A different side of me
I’m not crazy, I’m just a little impaired
I know right now you don’t care
But soon enough you’re gonna think of me
And how I used to be”